Keyakinan

 

 

Keyakinan 
Hari ini saham WIKA ditutup di atas saham WSKT. Apakah sebelumnya pernah, ini perlu riset lebih mendalam.
 
Tapi selama ini dalam pergerakan, saham WIKA cenderung di bawah saham WSKT.  Apakah ke depan kondisi ini akan berlanjut atau berbalik lagi, kami tidak tahu. Satu-satunya alasan untuk ini adalah di kinerja perusahaan. Selama investor melihat kinerja WIKA di atas kinerja WSKT, maka kinerja saham juga akan sejalan.
 
Selama kondisi WIKA bergerak di bawah WSKT, selalu muncul pertanyaan, apakah sebaiknya kita pindah kapal? Kondisi WIKA - WSKT hanyalah contoh. Karena kalau karir investasi kita masih panjang, kita akan terus-menerus bertemu kondisi yang sama. Apakah kita harus pindah kapal atau tidak melakukan apapun dan bertahan di rencana awal. 
 
Misalnya 2 berita di bawah ini :
https://m.bisnis.com/jakarta/read/20181227/77/873441/groundbreaking-fase-ii-mrt-jakarta-pertengahan-januari-2019
 
https://nasional.kompas.com/read/2019/03/19/16273761/jokowi-groundbreaking-mrt-fase-ii-pada-24-maret-2019
 
Dari ini terlihat bahwa rencana perusahaan akan berubah sesuai kondisi yang ada. Dan berita di bawah memperlihatkan rencana bahkan lebih panjang penundaannya. 
 
https://m.detik.com/finance/infografis/d-4057264/mengintip-rute-mrt-jakarta-fase-ii-yang-mulai-dibangun-desember-2018
 
Artinya kadang kita harus berpikir keras apakah kita akan memberikan toleransi pada perusahaan atau pindah saja. Di sini lah kita butuh keyakinan. 
 
Tapi keyakinan ini bukanlah keyakinan buta. Pokoknya asal yakin. Keyakinan ini haruslah berdasarkan fakta dan data. Atau ada bukti pendukung bahwa perusahaan memang bergerak sesuai dengan analisa kita.
 
Ini juga menjelaskan mengapa kita harus mengikuti perkembangan perusahaan. Tanpa mengetahui perkembangan perusahaan, kita akan salah mengartikan arah perusahaan. Buku Factfulness menjelaskan dengan bagus. Bagaimana manusia bisa miss informasi. Contoh, kita merasa China masih negara miskin yang penduduknya mau ke Indonesia untuk bekerja. Atau Afrika yang masih padang rumput dan pasir.
 
Tanpa keyakinan, tidak peduli apapun angka yang keluar, kita pasti akan menyerah. Sudah berapa kali kita akhirnya membuat keputusan yang berlawanan dengan hasil analisa kita. Biasanya karena kita merasa kalah suara. Jangan-jangan mayoritas investor tahu sesuatu yang tidak saya ketahui. Balik lagi, ingat kata Buffett. Kita benar bukan karena jumlah pengikut. Kita benar karena memang benar dan didasari oleh fakta yang jelas. 
 
Dan kita akan menyerah di investasi karena melakukan 2 kesalahan. Kesalahan berulang yang tidak diperbaiki dan 1-2 kesalahan besar yang merusak aset keseluruhan.
 
Kesalahan berulang biasanya timbul karena kebiasaan yang salah. Kita tinggal melakukan tindakan baru yang membentuk kebiasaan baru. Kesalahan besar timbul biasanya karena keyakinan buta kita dan tanpa ilmu yang cukup. Ini bisa diminimalkan dengan belajar.
 
Belajar dari yang sudah ada, alias pengalaman orang lain adalah guru, akan membuat kita memiliki ilmu. Dan belajar dari pengalaman sendiri, akan membentuk fondasi mental yang bisa mengatasi masalah. 
 
Belajar tanpa praktek ibarat pedang tajam dengan gengaman asal-asalan. Praktek tanpa belajar ibarat pedang tumpul yang diayunkan. Keduanya tidak akan berguna. Bahkan cenderung akan melukai kita sendiri. 
 
Ini gunanya kita belajar melakukan analisa. Salah tidak masalah, asal ada panduan untuk memperbaiki dan niat untuk itu.
 
Kalau di WIKA, selama kondisi masih di bawah dan harga saham tertekan, kami melihat kesempatan untuk membeli terus. Ingat untuk selalu memisahkan antara kinerja perusahaan dan kinerja saham. Selama kinerja perusahaan baik-baik saja, maka kinerja saham yang buruk adalah kesempatan membeli. Demikian juga sebaliknya. Selama kinerja perusahaan buruk, dan harga saham baik-baik saja itu adalah kesempatan menjual.
 
Bagaimana kondisi ke depan? Kami sama sekali tidak tahu. Karena itulah kami berusaha mengabaikan segala model meramal masa depan. Jika benar kami memiliki kemampuan meramal masa depan, alangkah kecilnya jika kami hanya menggunakan untuk menebak harga saham naik atau turun.
 
Karena ketidak tahuan inilah, maka bursa saham menawarkan ketidak pastian. Yang optimis akan membeli, yang pesimis akan menjual. Tinggal cek di sendiri, cara pandang kita yang mana dan apakah ada dasarnya.
 
Jangan sampai penilaian kita terhadap perusahaan karena faktor emosi. Terlalu fans dengan pemilik sehingga mengabaikan kenyataan atau terlalu tidak suka sehingga menolak tanpa menganalisa.
 
Kita bebas mengambil keputusan apapun, tapi nantinya kita wajib menerima hasilnya. Ketika hasil tidak sesuai keinginan, lihatlah keputusan yang kita ambil dulu, bukan mencari kambing hitam siapa yang mencelakakan kita.
 
Semakin sering kita bisa mencari jawaban dari diri kita dan mengabaikan yang luar, semakin kuat kita membangun fondasi untuk mencapai tujuan.
 
Contoh, manajemen WIKA menargetkan laba bersih 3 trillun untuk 2019. Seberapa besar keyakinan kita akan pencapaian ini? Kemudian setelah 2019, perusahaan akan tetap beroperasi dan tetap berusaha meningkatkan laba. Orang di dalam butuh naik gaji, butuh bonus akhir tahun. Pencapaian baru, valuasi baru. Pada akhirnya ini adalah cerita tidak berujung.
 
Selama perusahaan bekerja keras, kami sendiri akan berpegang pada mereka. Kadang cerita memang tidak baik, tapi kami tidak ingin setiap ada 1 jelek langsung putus hubungan. Pada akhirnya kami berusaha mencari perusahaan yang setelah dibeli tidak perlu dijual.
 
Manajemen akan bekerja keras meningkatkan nilai perusahaan. Apakah WIKA seperti ini? Hanya waktu yang akan menjawabnya.