Disclamer. Segala keputusan jual beli adalah tanggung jawab masing-masing pihak.
You are here: HomeAnalisa PsikologisSpiral Up and Down

Spiral Up and Down

 

Spiral Up and Down
 
Dalam berinvestasi, ada 3 fase yang biasanya kita ketahui. Bullish, sideways dan bearish. Atau istilah bullish bisa diganti jadi uptrend dan bearish jadi downtrend.
 
Uptrend adalah kondisi yang hari ini lebih baik dibanding kemarin. Sedangkan downtrend adalah kondisi hari ini lebih buruk dibanding kemarin.
 
Situasi manusia yang terlibat di dalamnya sendiri juga sama. Kondisinya sendiri ada 2. Apakah bergerak makin baik atau memburuk. Bergerak mendasar sepertinya kecil kemungkinan terjadi. 
 
Biasanya kita fokus pada hasil. Kita melihat kehidupan tetangga menjadi lebih maju. Kawan lama punya mobil baru. Teman kantor punya handphone baru. Dan seterusnya. Ini adalah hasil dari yang mereka lakukan. Berarti jika kita ingin hasil serupa ataupun yang lebih baik, kita harus mengetahui apa yang mereka lakukan untuk itu. 
 
Untuk ini, kita membagi menjadi 2 bagian. Yaitu apa yang dilakukan orang di luar kita dan apa yang dilakukan kita sendiri. Orang di luar kita dalam konteks ini adalah perusahaan. 
 
Tujuan jangka panjang setiap perusahaan adalah menjadi lebih baik. Ada yang parameternya dibanding dengan pesaing. Ada yang dengan mereka sendiri. Biasanya kita lihat di acara pubex atau RUPS perusahaan setiap tahunnya. 
 
Menjadi lebih baik dalam hal perusahaan yaitu mendapat untung lebih besar. Untuk itu, dilakukan dengan berbagai cara. Menjual produk yang lebih baik, lebih banyak. Menggaji orang terbaik. Berhemat, mengurangi biaya yang tidak efisien. Dan seterusnya. 
 
Pada umumnya perusahaan melakukan ini semua supaya nilai mereka di mata investor akan menjadi lebih baik. Kadang ada satu dua penipuan terjadi. Tapi sampai sekarang sepertinya tidak ada cara sempurna untuk mengetahui niat jahat orang-orang ini. Teman dekat saja bisa berbalik merugikan kita kalau berbicara untung dan rugi. Satu-satunya metode terhindar dari ini adalah tidak berinvestasi. 
 
Tapi memilih tidak berinvestasi adalah pilihan terakhir. Di artikel Zero Pilar, kami sudah membahas bagaimana cara meminimalisasi bahaya spiral up yang semu. 
 
Spiral up semu ini bahkan makin banyak di jaman medsos. Orang berhutang gila-gilaan untuk menunjukkan kesuksesan mereka di medsos. Atau berbohong akan pencapaian mereka demi nama. Beruntung jalan seorang value investor adalah berlawanan dengan ini. Jadi kita tidak terjebak persaingan tidak nyata ini. 
 
Menjadi value investor adalah bagian kedua dari artikel ini. Dan bagian paling pentingnya. Menjadi bernilai adalah bagaimana kita setiap hari berusaha menjadi lebih baik dibanding kemarin. 
 
Apapun yang terjadi di luar, selama kita mempunyai batas lingkaran kompetensi yang ditaati, kita akan selamat mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Bukankah mencapai tujuan utama adalah lebih penting dibanding setiap beberapa waktu kita terdampar di pulau tempat pemberhentian sementara. Lebih buruk lagi jika pulau ini sudah melenceng dibanding tujuan utama kita. 
 
Manusia jika tidak berusaha untuk meningkatkan diri, maka arahnya selalu akan turun. Ini sudah merupakan sifat natural dari segala hal. Makanya perusahaan terbaik terus menerus menantang diri sendiri melakukan yang terbaik. Kita sendiri juga sama. 
 
Jika kita duduk diam saja, sebenarnya kita sedang turun 1. Inilah spiral down yang terjadi. Lebih celakanya, kalau secara alami kita sudah posisi turun, kita melakukan hal yang membuat lebih cepat penurunan ini. Misalnya kalau duduk diam, lama-lama kita akan kelaparan. Kemudian kita malah memilih tidak makan dan mengerjakan aktivitas lain. Kita menambah booster untuk penurunan. 
 
Mengerjakan 1 berarti mempertahankan yang sudah ada. Kita harus melakukan lebih dari 1 supaya bisa naik ke atas. Ini adalah konsep spiral up. 
 
Meningkatkan diri juga bukan langsung melompat 1 gedung. Kita harus sadar kita tidak punya kekuatan super untuk ini. Seperti Buffett, yang harus kita lakukan adalah mencari anak tangga yang bisa kita naiki dengan nyaman. 
 
Spiral up maupun down pada akhirnya adalah bagaimana kita membentuk kebiasaan. Tinggal kita tanya, apa ujung dari kebiasaan yang kita lakukan. Apakah orang yang menjadi role model kita juga melakukannya. Jika ya, dan kita ingin lebih cepat darinya, tidak ada jalan lain, kita harus melakukan lebih banyak. 
 
Kemudian, dalam membangun kebiasaan baru, apalagi yang baik, biasanya kita selalu memiliki banyak penghalang. Yang paling utama adalah kondisi kita sebelumnya. Misalnya mengenai membaca. Setelah tamat sekolah, kita mungkin mengurangi atau menghilangkan kebiasaan membaca. Jika ingin dibiasakan lagi, tentu sulit. Lebih menyenangkan jika berkumpul dengan teman lama dan bergosip. Atau menikmati hidup misalnya dengar musik, jalan-jalan, dan sebagainya. 
 
Karena di awal mungkin kebiasaan lama kita lebih mengakar, kita jelas butuh komunitas yang bisa mendukung terbentuknya kebiasaan baru. Kita butuh orang-orang yang sudah di depan yang secara mental lebih kuat untuk bertindak sebagai milestone kita. Misalnya jika jalur kita adalah value investor, maka bergaul dengan orang yang sudah menjalankan selama bertahun-tahun akan sangat membantu. Kita akan tahu tahun kedua seperti apa, tahun kelima seperti apa. Jika sampai di titik masalah ini, apa yang seharusnya dilakukan. 
 
Salah satu komunitas yang cukup banyak berkembang di Amerika adalah komunitas untuk kecanduan alkohol. Semua berkomitmen saling mendukung, konsisten datang, dan berusaha sedikit demi sedikit menjadi lebih baik. Dan orang yang sudah berhasil akan kembali untuk menolong yang memulai. 
 
Hasil ini semua tidak akan terlihat dalam hitungan hari. Karena itulah perubahan dalam perusahaan tidak bisa dinilai setiap hari. Mungkin bisa tahunan untuk itu. Sama juga dengan kita. Tiap hari berusaha mengecek perubahan yang terjadi akan membuat mental mungkin drop karena dirasa jarak yang harus ditempuh sangat jauh. 
 
Seperti anak kecil yang terus menanyakan apakah sudah tiba sewaktu dalam perjalanan wisata. Beruntung anak kecil ini ada orang tua yang membimbing. Kita juga sama, pada akhirnya lingkungan yang tepat akan membimbing kita naik level dan berhasil dalam spiral up ini. 
 
Selalu ingat, segala masalah yang terjadi di kita, jelas adalah tindakan sembrono yang kita lakukan di masa lalu, dan segala kebaikan yang kita terima adalah karena kebaikan yang lain.
 
Kita bisa rugi saham adalah karena keputusan kita memencet tombol beli dan tidak menjual ketika situasi memang mengharuskan ini dilakukan. Tapi jika kita mendapat profit, selalu ingat, ada ribuan pekerja yang berusaha meningkatkan nilai perusahaan kita, dan ada ratusan investor yang juga memiliki pandangan sama dengan kita yang membeli perusahaan ini.
 
Ingat rumusnya, jika spiral down, berhenti menggali lebih dalam, dan berbaliklah, jika spiral up, selalu berterima kasih pada lingkungan kita. 

Download HOTS

HOTS Manual

Video Tutorial HOTS

Lowongan Kerja

2121388
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
159
2263
6160
13272
42616
50310
2121388

Your IP: 54.91.121.255
Server Time: 2019-04-26 02:01:20
Disclamer. Segala keputusan jual beli adalah tanggung jawab masing-masing pihak.
Joomla templates by Joomlashine