Disclamer. Segala keputusan jual beli adalah tanggung jawab masing-masing pihak.
You are here: HomeAnalisa PsikologisMengapa IHSG turun?

Mengapa IHSG turun?

 

Mengapa IHSG turun?

IHSG sejak pemilu terus-menerus turun. Kalau dari titik tertingginya, sudah turun di atas 10%. Apa yang kira-kira membuat IHSG turun? Yang jelas bukan krisis 10 tahun, karena krisis 10 tahun sudah lewat tahun lalu. Jadi IHSG tidak mungkin krisis lagi sampai 2028. Demikian mungkin pernyataan para ahli ramal bursa. Alasan krisis karena siklus tidak akan bisa konsisten, sudah banyak artikel kami buat untuk menyanggah alasan ini. Bisa dibaca di artikel sebelumnya.

Karena penurunan karena siklus tidak akan konsisten, maka penurunan karena konsep Sell in May and go away juga sama saja. Tinggal cek saja apakah benar setiap bulan Mei IHSG pasti turun. Kalaupun ya, apakah berlaku untuk semua saham? Jadi untuk mengecek hal-hal seperti ini, tinggal buka data sejarah saja. Akan terlihat kenyataan tidak seperti bayangan kita.

Dengan pengetahuan bahwa penurunan IHSG dan harga saham bukan karena siklus, maka kita perlu mencari penyebab lain supaya bisa diantisipasi. Kalau dilihat apa saja berita yang tidak baik selama sebulan terakhir, perang dagang antara China dan Amerika dimulai lagi. Maka adalah wajar bursa saham turun. Dan ini terjadi di seluruh dunia. Jadi bursa merah bukan hanya terjadi di Indonesia saja.

Selain itu, di Indonesia ada berita lain, yaitu faktor neraca dagang yang defisit. Defisit ini sendiri merupakan masalah yang sudah lama terjadi. Ini dikarenakan rata-rata pengusaha di Indonesia memilih impor dibanding membuat pabrik untuk produksi barang kebutuhan dalam negeri. Selain karena lebih gampang dengan membeli saja (bayangkan saja kalau kita diberi pilihan, beli sayur di pasar atau menanam sayur sendiri, mungkin lebih banyak yang memilih membeli) maka masalah lama di Indonesia terus terjadi. Misalnya infrastruktur yang tidak memadai, yang sekarang diselesaikan pemerintah. Tapi ini butuh waktu, bangun jalan dulu, baru bisa bangun listrik, bendungan, dan sebagainya. Baru pabrik bisa dibangun. Selain itu, masalah SDM dan birokrasi yang mudah-mudahan pada pemerintahan selanjutnya bisa diletakkan fondasi untuk perbaikan.

Kemudian ada situasi lain yang terjadi. Yaitu penurunan kinerja beberapa perusahaan besar. Di daftar kami ada AKRA, LPPF, ERAA, WSKT, UNVR, termasuk sektor komiditas. Dan kalau kita mengacu pada cara pandang semua value investor, maka penurunan kinerja perusahaan akan diikuti penurunan harga saham. Ini dasar dari semua cara berinvestasi. Kita berinvestasi kalau mau untung, dan tahun depan lebih baik, tapi kalau hasil investasi turun, maka sebagai investor kita jelas akan kecewa. Ini juga terlihat kalau cara pandang kita fokus pada pegerakan harga saham saja. Begitu harga saham turun, kita akan bereaksi negatif.

Dan penurunan kinerja perusahaan terlihat di pertumbuhan GDP Indonesia untuk kuartel 1 yang sedikit melambat. Ini tidak sesuai prediksi pasar. Di buku Fit Focus Finish dari Rudyanto membahas tentang ini. Silakan baca untuk lebih detil. Dengan banyaknya situasi buruk, sebagian investor tentu saja akan memilih untuk melindungi investasinya. Apakah itu satu-satunya metode? Jual dulu kemudian membeli lagi kalau sudah jatuh lebih dalam.

Untuk itu, kita perlu memahami dulu bagaimana cara berinvestasi kita. Apakah kita punya kemampuan menentukan saat terbaik untuk bertransaksi. Berusaha menebak siklus pasar jelas agak repot, karena bukan sesuatu yang bisa secara konsisten dilakukan. Karena itulah Peter Lynch menyebutnya Penultimate Preparedness. Artinya kita cenderung bereaksi terhadap apa yang sudah terjadi dibanding berusaha mengantisipasi apa yang akan terjadi.

Menjual setelah pasar turun dan membeli setelah pasar naik, karena ingin mencari kepastian, adalah langkah yang sudah telat. Ketika pasar sedang turun, tidak banyak yang bisa tenang melihat apakah ada peluang membeli yang muncul. Sebaliknya juga di kondisi pasar sedang naik. Mentalitas takut kehilangan dan ingin mendapat hasil semaksimal mungkin yang membuat kita bereaksi demikian.

Kita berusaha menebak apa yang akan pasar lakukan sehingga akhirnya memilih pasar yang menjadi penentu keputusan berinvestasi kita. Ini bukannya boleh atau tidak dilakukan. Tapi yang perlu ditanyakan adalah apakah metode ini bisa konsisten dijalankan? Darimana jaminan bahwa pasar tahu lebih banyak dibanding kita? Dan pasar yang mana? Jika kita mengikuti begitu saja, ini adalah istilah dari herding behaviour.

Dan kalau kita mengikuti cara pandang semua investor besar, tidak ada yang berhasil dengan mengikuti apa kata orang. Dari Buffett sendiri memberi penjelasan yang bagus. Bursa saham terdiri dari banyak orang. Ada yang menjual dan ada yang membeli. Pihak mana yang harus kita ikuti. Pada akhirnya yang bisa kita yakini adalah kita sendiri.

Tapi keyakinan kita jelas bukan dari perasaan saja. Haruslah didukung oleh fakta yang ada. Kalau yakin benar tapi fakta berkata lain, mungkin kita harus mengecek lagi cara pandang kita. Yang harus diingat, apakah data kita ini masih valid atau tidak. Jangan sampai kita melihat masa depan menggunakan data masa lalu. Buku Factfulness banyak membahas tentang ini. Bagaimana menggunakan informasi untuk keuntungan kita.

Dan kami pribadi tidaklah terlalu ingin terlalu fokus pada pasar sehingga tidak bisa melakukan kegiatan lain yang lebih produktif. Sehingga bagi kami penurunan pasar adalah hal yang bisa kami terima. Dan solusi untuk ini adalah fokus berinvestasi di perusahaan yang terbaik, karena perusahaan bagus akan selalu membaik setelah kondisi buruk berlalu. Kemudian memiliki batas atas beli dan batas bawah jual, atau istilahnya margin of safety. Jika perusahaan terbaik memiliki margin keuntungan yang tebal, kita juga seharusnya melakukan hal yang sama jika ingin kekayaan kita berkembang.

Kemudian kita melakukan pembelian berkala. Selama masa produktif kami akan berusaha menggunakan segala sumber daya yang kami miliki untuk memiliki penghasilan maksimal, yang setelah dikurangi biaya hidup, dapat kami investasikan ke pasar modal. Bagi kami, pasar modal adalah pilihan paling logis untuk mencapai tujuan jangka panjang kami. Dan dengan aset yang terbatas, bagaimana bisa dikembangkan sehingga menunjang masa depan kami.

Kalau dilihat, selama bertahun-tahun metode yang kami sampaikan selalu sama. Paling ada penambahan di sana sini. Ini karena sebuah metode yang sudah teruji, akan bisa dilakukan secara konsisten. Dan hasil dari value investing bisa dengan gampang dilihat buktinya di berbagai tempat, berbagai waktu, dijalankan beragam orang dengan latar belakang yang berbeda, dan dengan tujuan investasi yang berbeda. Jadi bagi kami, tidak perlu lagi menjadi orang jenius yang membuka jalan baru jika jalan yang teruji sudah ada. Tinggal tanya ke kita sendiri, apakah mau melaluinya? Mau dulu, cari tahu caranya, dan mampu menjalankan sampai tuntas. Ini resep sederhana untuk berhasil di semua hal, termasuk berinvestasi.

Sayangnya, semua hal yang berhasil butuh waktu, yang tidak akan bisa diterima semua orang. Tidak perlu heran kalau akhirnya banyak yang berhenti. Tinggal tanya ke kita sendiri, apakah kita akan berhenti hari ini karena melihat bursa turun, atau maju terus.

Download HOTS

HOTS Manual

Video Tutorial HOTS

Lowongan Kerja

2225978
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
1016
1991
3007
13383
42373
53814
2225978

Your IP: 54.221.145.174
Server Time: 2019-06-25 13:34:22
Disclamer. Segala keputusan jual beli adalah tanggung jawab masing-masing pihak.
Joomla templates by Joomlashine